21, Jul, 2019
Semen Padang yang belum “panas”

Semen Padang yang belum “panas”

Padang (ANTARA News) – Senyuman asisten pelatih PS Tira Miftahudin sore itu begitu menawan. Langkah kaki pria berbadan tegap itu begitu tenang memasuki ruang jumpa pers selepas laga Semen Padang menghadapi PS Tira yang berkesudahan 1-2 untuk tim tamu.

Miftahudin yang saat itu menggantikan posisi pelatih kepala PS Tira, Rahmad Darmawan yang berangkat ke Spanyol, memberikan senyuman tulus kepada seluruh awak media yang menunggu kedatangannya.

Ia bersyukur dengan hasil laga pertama babak 32 besar Piala Indonesia di Stadion Haji Agus Salim Kota Padang, Sumatera Barat, itu karena timnya dapat memenangi laga.

Menurutnya, kemenangan itu terasa istimewa karena dalam beberapa kali lawatan ke Kota Padang menghadapi tim “Kabau Sirah” belum sekalipun timnya menang.

“Alhamdulillah, seumur-umur jadi pelatih baik di klub maupun di tim nasional baru kali ini tim kami menang di Padang,” katanya.

Ia mengakui datang ke Padang dengan tim seadanya dan tanpa diperkuat empat pemain asing mereka yang terkendala soal Kartu Izin Tinggal Sementara (Kitas). Selain itu pola latihan tim masih menggunakan gambaran umum, yakni pola bertahan dan itu yang diterapkan dalam laga tersebut.

“Anak-anak bekerja keras pada laga tersebut meskipun ada keberuntungan saya bangga dengan kemenangan tersebut,” katanya.

Dalam laga tersebut Semen Padang tampil kurang bergairah, komunikasi pemain yang kurang berjalan sempurna, lini pertahanan mudah ditembus serta lini serang seperti tidak memiliki visi penyerangan yang jelas.

Berbagai persoalan tentu menjadi penyebab tim “Kabau Sirah” bermain seperti itu, selain ditinggal pelatih kepala mereka Syafrianto Rusli yang berguru ke Spanyol untuk mengambil lisensi AFC A Pro.

Persiapan yang kurang matang dituding menjadi penyebab Semen Padang gagal memberikan permainan terbaik mereka sore itu.

Selepas memastikan diri sebagai peringkat kedua Liga 2-2018 dan memastikan tiket promosi ke Liga 1, Semen Padang langsung membubarkan tim.

Memasuki musim kompetisi 2019, manajemen Semen Padang tidak memperpanjang kontrak sembilan pemain mereka yakni Hengki Ardiles, Ahmad Bahrus Bahtiar, Guntur Pranata, Ngurah Nanak, Ibrahim Sanjaya, Febly Gushendra, Elthon Maran, Mardiono dan Gugum Gumilar.

Mereka mempertahankan 17 pemain yang membawa tim tersebut promosi ke Liga 1 yaitu Rendi Oscario, Achmad Bahtiar, Leo Guntara, Novrianto, Agung Prasetyo, Fridolin Kristof Yoku, Manda Cingi, Rudi, Rosad Setiawan, Firman Septian, Abdurahman Lestaluhu, Afriansyah, Ronaldo Eko, Apriogi, Irsyad Maulana dan Riski Novriansyah.

Sejak tim diliburkan pada 15 Desember 2018, ketujuh belas pemain itu dipanggil kembali ke Mess Indarung pada 10 Januari 2019. Dari tujuh belas pemain, dua pemain saat itu belum dapat bergabung yakni Irsyad Maulana dan Riski Novriansyah.

Kabar baiknya, Semen Padang berhasil mendatangkan mantan pemain Bali United Syaiful Indra Cahya dan langsung mengikuti latihan bersama 15 pemain lainnya.

Pelatih kepala Syafrianto Rusli mengatakan pemain mereka saat ini memiliki kendala stamina dan kebugaran fisik sehingga hal tersebut yang akan menjadi fokus timnya.

Ia mengakui beberapa pemain masih memiliki persoalan kebugaran sehingga dalam latihan mereka kurang optimal.

Namun, dirinya berjanji seiring berjalannya waktu, kondisi fisik dan stamina akan kembali seperti semula dan mereka yang tidak berhasil kembali ke kondisi maksimal akan dievaluasi.

Rentang beberapa hari, Semen Padang kembali mendatangkan pemain, Shukurali Pulatov yang berposisi sebagai pemain bertahan. Pemain asal Uzbekistan itu fasih berbahasa Rusia dan terkendala dalam berbahasa Inggris, tentu ini menjadi persoalan baru.

Kemudian, mereka juga berhasil mendapatkan mantan penjaga gawang Sriwijaya FC Teja Paku Alam dan Muhammad Rifqi berposisi sebagai bek sayap. Mereka langsung beruji coba dengan PPLP Sumbar dan berhasil menggulung tim muda asal Sumbar itu 5-0.

Dua hari setelah itu, manajemen kembali merekrut pemain asal Brazil Nildo Victoria Juffo pada Jumat (18/1) dan sorenya pemain berposisi sebagai gelandang serang itu bergabung latihan dengan pemain lainnya.

Berbagai persoalan muncul, mulai dari cideranya Syaiful Indra Cahya dan berangkatnya pelatih kepala Syafrianto Rusli ke Spanyol beberapa hari menjelang laga menghadapi PS Tira.

Dengan kondisi tersebut, Semen Padang layaknya petinju yang belum memiliki cukup waktu untuk latihan, namun dipaksa naik ring sehingga penampilan mereka jauh dari ekspektasi masyarakat pecinta tim “Kabau Sirah”.

Rapuhnya lini belakang mereka yang digalang Novriato, Muhammad Rifqi, Leo Guntara dan Shukurali Pulatov belum mampu memberikan rasa aman bagi Teja Paku Alam yang merupakan kiper tersibuk dalam Liga 1-2018.

Persoalan ini tentu menjadi perhatian karena daya serang tim Liga 1 nanti begitu berbahaya yang dihuni penyerang asing dan ini harus menjadi catatan penting jika manajemen tidak ingin Teja Paku Alam kembali menjadi kiper tersibuk sepanjang gelaran Liga 1-2019.

Kemudian lini tengah yang dihuni Manda Cingi dan Yoku dengan sokongan Nildo terlihat belum menjanjikan, proses adaptasi Nildo Juffo yang butuh waktu serta komunikasi antar lini yang belum baik menjadi catatan penting.

Selanjutnya untuk lini serang, ada Irsyad Maulana, Afriansyah dan Riski Novriansyah yang rajin menjebol gawang lawan saat kompetisi Liga 2. Namun menghadapi Liga 1 tentu sektor ini juga perlu dibenahi mereka mampu berbuat banyak nantinya.

Asisten pelatih Semen Padang Weliansyah mengakui komunikasi antar pemain belum berjalan dengan bagus namun ia mempercayai sepak bola memiliki satu bahasa dan seiring berjalannya waktu tim akan padu.

Ia menilai dalam laga menghadapi PS Tira yang menerapkan pola bertahan dengan menumpuk pemain di lini belakang membuat pemainnya frustasi. Menurutnya, mereka kurang sabar dan kurang jeli membongkar pertahanan lawan.

“Hasil ini menjadi pelajaran penting bagi kami. Kami belum melakukan uji coba dengan tim profesional dan hari ini dapat kita ambil pelajaran dan evaluasi untuk menghadapi musim kompetisi 2019,” katanya.

Sementara manajer Semen Padang Win Bernadio memandang positif hasil ini dan menilai anak-anak Semen Padang butuh waktu untuk kembali ke jalur yang benar. Dalam beberapa waktu mendatang pihaknya akan mendatangkan dua pemain lokal dan satu pemain asing untuk memperkuat tim.

Dirinya senang dua pemain asing mereka yakni Shukurali dan Nildo Juffo dapat bermain dalam laga menghadapi PS Tira. Hal itu dapat melihat kelemahan tim serta melakukan evaluasi untuk melakukan perbaikan ke depannya.

“Laga menghadapi PS Tira merupakan bagian dari persiapan tim menjelang kompetisi. Biasanya ada masa pra kompetisi dulu seperti Piala Presiden sebelum kompetisi resmi, namun sekarang Piala Indonesia dulu, Piala Presiden dan kompetisi liga, namun semua itu kita jalani saja,” katanya.*

Baca juga: Dua pemain asing Semen Padang kantongi izin bermain

Baca juga: PS Tira tundukkan tuan rumah Semen Padang 2-1

Baca juga: Semen Padang siapkan strategi bongkar taktik “parkir bus”

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019